Sabtu, 13 Juni 2026
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Kontak
  • Login
  • Register
Koran Merapi
Advertisement
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata
  • Kuliner
  • Budaya
  • Opini
No Result
View All Result
Koran Merapi
No Result
View All Result
Home Opini

Biosaka: Revolusi Organik atau Sekadar Sugesti Pertanian?

Oleh: Dr. (C) Arya Ariyanto, SE, MM

admin by admin
22 Januari 2026
in Opini
0
0
SHARES
55
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

KORAN MERAPI  – Di tengah melonjaknya harga pupuk kimia dan makin nyatanya degradasi kesuburan tanah akibat penggunaan input sintetis yang berlebihan, dunia pertanian Indonesia seperti sedang mencari pegangan baru. Dalam situasi inilah Biosaka hadir, sebuah inovasi sederhana yang lahir dari tangan petani, bukan dari laboratorium megah. Namun justru karena kesederhanaannya, Biosaka memantik perdebatan: apakah ia benar-benar terobosan ilmiah, atau sekadar sugesti kolektif yang dibungkus testimoni keberhasilan?

Biosaka bukan produk pabrikan. Ia lahir dari kepekaan seorang petani Blitar, Muhamad Anshar, yang membaca bahasa alam dengan caranya sendiri. Kini, Biosaka menjelma menjadi gerakan akar rumput yang menyebar cepat melalui jejaring Relawan Bio Saka, menantang dominasi pupuk kimia yang selama puluhan tahun memenjarakan petani dalam ketergantungan.

Daya tarik Biosaka terletak pada filosofinya yang radikal namun membumi: Selamatkan Alam, Kembali ke Alam. Ia tidak menjanjikan nutrisi instan seperti pupuk, melainkan bekerja sebagai elisitor, pemicu biologis yang “membangunkan” sistem metabolisme dan pertahanan tanaman. Jika pupuk adalah makanan, maka Biosaka lebih menyerupai suplemen atau bahkan vaksin: dosis kecil, tetapi berdampak sistemik.

Hal yang paling mengusik status quo adalah aspek ekonominya. Biosaka diproduksi dari rumput dan dedaunan sehat di sekitar lahan, dengan biaya nyaris nol rupiah. Di saat subsidi pupuk negara menghabiskan triliunan rupiah setiap tahun, klaim pengurangan pupuk kimia hingga 50–90% terdengar seperti ancaman serius bagi industri pupuk, sekaligus harapan besar bagi petani kecil.

Namun, di sinilah kontroversi bermula. Biosaka dibuat tanpa fermentasi, tanpa mesin, hanya melalui peremasan manual dedaunan dalam air selama 10–15 menit. Tidak ada gas, tidak ada endapan, dan tidak ada formula baku yang bisa direplikasi secara persis.

Keberhasilannya sangat bergantung pada kejelian memilih bahan, waktu pengambilan daun, dan bahkan kelembutan tangan pembuatnya.

Bagi dunia akademik yang menjunjung standar dan replikasi, metode ini tentu memancing skeptisisme. Bagaimana mungkin cairan hasil remasan tangan mampu mengubah metabolisme tanaman secara signifikan? Jawaban pendukung Biosaka merujuk pada konsep elisitor dalam fisiologi tanaman, senyawa pemicu respons pertahanan yang memang dikenal dalam sains. Masalahnya bukan pada apakah mungkin, melainkan pada sejauh mana konsistensi dan validitasnya.

Hingga kini, kekuatan utama Biosaka masih bertumpu pada pengalaman empiris petani. Banyak yang mengaku tanamannya lebih tahan penyakit, pertumbuhannya lebih seimbang, dan biaya produksinya turun drastis. Namun, pertanian modern tidak bisa hanya berdiri di atas testimoni. Ia membutuhkan data uji multilokasi, lintas komoditas, dan terstandar, agar inovasi seperti Biosaka tidak berhenti sebagai cerita sukses lokal.

Di sisi lain, menolak Biosaka hanya karena ia lahir dari praktik non-laboratoris juga merupakan bentuk arogansi pengetahuan. Sejarah pertanian dunia justru dipenuhi inovasi besar yang berawal dari kearifan petani, lalu diformalkan oleh sains.

Biosaka barangkali bukan jawaban final atas seluruh persoalan pertanian. Ia bukan pengganti total pupuk, melainkan pengingat bahwa tanah dan tanaman memiliki kemampuan alami yang selama ini ditekan oleh ketergantungan kimia. Dalam konteks krisis lingkungan dan ekonomi petani, Biosaka layak diposisikan sebagai jembatan menuju sistem pertanian yang lebih berdaulat dan berkelanjutan.

Tantangannya kini ada pada pemerintah dan akademisi: apakah mereka bersedia turun ke sawah, menguji dengan pikiran terbuka, lalu menyusun standar ilmiah tanpa mematikan ruh inovasi petani?

Jika ya, Biosaka bisa tumbuh dari sekadar gerakan menjadi pilar pertanian masa depan. Jika tidak, ia mungkin akan berlalu sebagai tren, bukan karena gagal, tetapi karena tak pernah benar-benar diberi ruang untuk dibuktikan. (*)

Tags: Arya AriyantoBiosakaKoranmerapi.idPertanianPupuk

Related Posts

Sipilisasi Polri dan Jalan Panjang Reformasi yang Terlupakan
Opini

Sipilisasi Polri dan Jalan Panjang Reformasi yang Terlupakan

10 Juni 2026
Memelihara Harapan, Catatan Hendry Ch Bangun (FWK)
Opini

Memelihara Harapan, Catatan Hendry Ch Bangun (FWK)

6 Juni 2026
Ketika ‘Pesta Babi’ Menjadi Metafora Papua
Opini

Ketika ‘Pesta Babi’ Menjadi Metafora Papua

14 Mei 2026
Saat Rasa Aman Dipertaruhkan: Menakar Akuntabilitas Layanan Pendidikan Anak Usia Dini
Opini

Saat Rasa Aman Dipertaruhkan: Menakar Akuntabilitas Layanan Pendidikan Anak Usia Dini

28 April 2026
Hari Kebebasan Pers Dunia:  Menjadi Suluh dan Lokomotif Bangsa
Opini

Hari Kebebasan Pers Dunia:  Menjadi Suluh dan Lokomotif Bangsa

3 Mei 2026
Hari Kemenangan atau Sekadar Tradisi? Saatnya Idulfitri Menjadi Titik Balik yang Sesungguhnya
Opini

Hari Kemenangan atau Sekadar Tradisi? Saatnya Idulfitri Menjadi Titik Balik yang Sesungguhnya

20 Maret 2026

Stay Connected

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Penutupan Plengkung Nirboyo (Plengkung Gading) untuk Konservasi dan Keselamatan

Penutupan Plengkung Nirboyo (Plengkung Gading) untuk Konservasi dan Keselamatan

15 Maret 2025
Bukber Alumni SMPN 1 Jogja Tahun 1983: Ayo Reuni & Bernostalgia!

Bukber Alumni SMPN 1 Jogja Tahun 1983: Ayo Reuni & Bernostalgia!

15 Maret 2025
Mematahkan Stigma, Penyintas Stroke Lumpuh dan Dokternya Berlari Bersama di Bethesda Heritage Run 2026: “Stroke Bukan Akhir Segalanya”

Mematahkan Stigma, Penyintas Stroke Lumpuh dan Dokternya Berlari Bersama di Bethesda Heritage Run 2026: “Stroke Bukan Akhir Segalanya”

17 Mei 2026
Retno Soetarto : Dunia Hiburan dapat Memberikan Manfaat Dalam Hidupnya.

Retno Soetarto : Dunia Hiburan dapat Memberikan Manfaat Dalam Hidupnya.

18 April 2024
DARI OMPRENG KEMBALI KE OMPRENG: Menengok Konsep Sirkular Ekonomi “Kabeh Mubeng Lan Migunani” di SPPG Palbapang 2 Bantul

DARI OMPRENG KEMBALI KE OMPRENG: Menengok Konsep Sirkular Ekonomi “Kabeh Mubeng Lan Migunani” di SPPG Palbapang 2 Bantul

0
Dampak Exit Tol di Maguwoharjo Dipetakan, Dishub DIY Wacanakan Bundaran Besar

Dampak Exit Tol di Maguwoharjo Dipetakan, Dishub DIY Wacanakan Bundaran Besar

0
Pelatih Fisik PSS Sleman Anel Hidic Benahi Fisik Pemain Secara Bertahap Hingga Capai Peak Performance Saat BRI Liga 1 Kembali Bergulir

Pelatih Fisik PSS Sleman Anel Hidic Benahi Fisik Pemain Secara Bertahap Hingga Capai Peak Performance Saat BRI Liga 1 Kembali Bergulir

0
Begini ritual tahunan di Jogja, pelaku wisata untung

Begini ritual tahunan di Jogja, pelaku wisata untung

0
DARI OMPRENG KEMBALI KE OMPRENG: Menengok Konsep Sirkular Ekonomi “Kabeh Mubeng Lan Migunani” di SPPG Palbapang 2 Bantul

DARI OMPRENG KEMBALI KE OMPRENG: Menengok Konsep Sirkular Ekonomi “Kabeh Mubeng Lan Migunani” di SPPG Palbapang 2 Bantul

12 Juni 2026
Ratusan Pahlawan Kemanusiaan Terima Penghargaan Donor Darah 50 Kali, Apresiasi atas Keikhlasan Tanpa Batas

Ratusan Pahlawan Kemanusiaan Terima Penghargaan Donor Darah 50 Kali, Apresiasi atas Keikhlasan Tanpa Batas

11 Juni 2026
Musim Wisuda Tiba: Solusi Pindah Kostan Praktis Mahasiswa Jogja Kembali ke Kampung Halaman

Musim Wisuda Tiba: Solusi Pindah Kostan Praktis Mahasiswa Jogja Kembali ke Kampung Halaman

10 Juni 2026
Menjaga Warisan, Memacu Ekonomi: Kisah Sri Rahayu Membawa Ayu Berkah Batik Menembus Pasar Nasional

Menjaga Warisan, Memacu Ekonomi: Kisah Sri Rahayu Membawa Ayu Berkah Batik Menembus Pasar Nasional

10 Juni 2026
DARI OMPRENG KEMBALI KE OMPRENG: Menengok Konsep Sirkular Ekonomi “Kabeh Mubeng Lan Migunani” di SPPG Palbapang 2 Bantul

DARI OMPRENG KEMBALI KE OMPRENG: Menengok Konsep Sirkular Ekonomi “Kabeh Mubeng Lan Migunani” di SPPG Palbapang 2 Bantul

12 Juni 2026
Ratusan Pahlawan Kemanusiaan Terima Penghargaan Donor Darah 50 Kali, Apresiasi atas Keikhlasan Tanpa Batas

Ratusan Pahlawan Kemanusiaan Terima Penghargaan Donor Darah 50 Kali, Apresiasi atas Keikhlasan Tanpa Batas

11 Juni 2026
Musim Wisuda Tiba: Solusi Pindah Kostan Praktis Mahasiswa Jogja Kembali ke Kampung Halaman

Musim Wisuda Tiba: Solusi Pindah Kostan Praktis Mahasiswa Jogja Kembali ke Kampung Halaman

10 Juni 2026
Menjaga Warisan, Memacu Ekonomi: Kisah Sri Rahayu Membawa Ayu Berkah Batik Menembus Pasar Nasional

Menjaga Warisan, Memacu Ekonomi: Kisah Sri Rahayu Membawa Ayu Berkah Batik Menembus Pasar Nasional

10 Juni 2026
Sipilisasi Polri dan Jalan Panjang Reformasi yang Terlupakan

Sipilisasi Polri dan Jalan Panjang Reformasi yang Terlupakan

10 Juni 2026
Polda Sumsel Gandeng AMKI Jadi Narasumber Rakernis Humas 2026

Polda Sumsel Gandeng AMKI Jadi Narasumber Rakernis Humas 2026

10 Juni 2026