KORAN MERAPI – Di tengah melonjaknya harga pupuk kimia dan makin nyatanya degradasi kesuburan tanah akibat penggunaan input sintetis yang berlebihan, dunia pertanian Indonesia seperti sedang mencari pegangan baru. Dalam situasi inilah Biosaka hadir, sebuah inovasi sederhana yang lahir dari tangan petani, bukan dari laboratorium megah. Namun justru karena kesederhanaannya, Biosaka memantik perdebatan: apakah ia benar-benar terobosan ilmiah, atau sekadar sugesti kolektif yang dibungkus testimoni keberhasilan?
Biosaka bukan produk pabrikan. Ia lahir dari kepekaan seorang petani Blitar, Muhamad Anshar, yang membaca bahasa alam dengan caranya sendiri. Kini, Biosaka menjelma menjadi gerakan akar rumput yang menyebar cepat melalui jejaring Relawan Bio Saka, menantang dominasi pupuk kimia yang selama puluhan tahun memenjarakan petani dalam ketergantungan.
Daya tarik Biosaka terletak pada filosofinya yang radikal namun membumi: Selamatkan Alam, Kembali ke Alam. Ia tidak menjanjikan nutrisi instan seperti pupuk, melainkan bekerja sebagai elisitor, pemicu biologis yang “membangunkan” sistem metabolisme dan pertahanan tanaman. Jika pupuk adalah makanan, maka Biosaka lebih menyerupai suplemen atau bahkan vaksin: dosis kecil, tetapi berdampak sistemik.
Hal yang paling mengusik status quo adalah aspek ekonominya. Biosaka diproduksi dari rumput dan dedaunan sehat di sekitar lahan, dengan biaya nyaris nol rupiah. Di saat subsidi pupuk negara menghabiskan triliunan rupiah setiap tahun, klaim pengurangan pupuk kimia hingga 50–90% terdengar seperti ancaman serius bagi industri pupuk, sekaligus harapan besar bagi petani kecil.
Namun, di sinilah kontroversi bermula. Biosaka dibuat tanpa fermentasi, tanpa mesin, hanya melalui peremasan manual dedaunan dalam air selama 10–15 menit. Tidak ada gas, tidak ada endapan, dan tidak ada formula baku yang bisa direplikasi secara persis.
Keberhasilannya sangat bergantung pada kejelian memilih bahan, waktu pengambilan daun, dan bahkan kelembutan tangan pembuatnya.
Bagi dunia akademik yang menjunjung standar dan replikasi, metode ini tentu memancing skeptisisme. Bagaimana mungkin cairan hasil remasan tangan mampu mengubah metabolisme tanaman secara signifikan? Jawaban pendukung Biosaka merujuk pada konsep elisitor dalam fisiologi tanaman, senyawa pemicu respons pertahanan yang memang dikenal dalam sains. Masalahnya bukan pada apakah mungkin, melainkan pada sejauh mana konsistensi dan validitasnya.
Hingga kini, kekuatan utama Biosaka masih bertumpu pada pengalaman empiris petani. Banyak yang mengaku tanamannya lebih tahan penyakit, pertumbuhannya lebih seimbang, dan biaya produksinya turun drastis. Namun, pertanian modern tidak bisa hanya berdiri di atas testimoni. Ia membutuhkan data uji multilokasi, lintas komoditas, dan terstandar, agar inovasi seperti Biosaka tidak berhenti sebagai cerita sukses lokal.
Di sisi lain, menolak Biosaka hanya karena ia lahir dari praktik non-laboratoris juga merupakan bentuk arogansi pengetahuan. Sejarah pertanian dunia justru dipenuhi inovasi besar yang berawal dari kearifan petani, lalu diformalkan oleh sains.
Biosaka barangkali bukan jawaban final atas seluruh persoalan pertanian. Ia bukan pengganti total pupuk, melainkan pengingat bahwa tanah dan tanaman memiliki kemampuan alami yang selama ini ditekan oleh ketergantungan kimia. Dalam konteks krisis lingkungan dan ekonomi petani, Biosaka layak diposisikan sebagai jembatan menuju sistem pertanian yang lebih berdaulat dan berkelanjutan.
Tantangannya kini ada pada pemerintah dan akademisi: apakah mereka bersedia turun ke sawah, menguji dengan pikiran terbuka, lalu menyusun standar ilmiah tanpa mematikan ruh inovasi petani?
Jika ya, Biosaka bisa tumbuh dari sekadar gerakan menjadi pilar pertanian masa depan. Jika tidak, ia mungkin akan berlalu sebagai tren, bukan karena gagal, tetapi karena tak pernah benar-benar diberi ruang untuk dibuktikan. (*)




















